Senin, 11 Maret 2019

Bismillah..

Alhamduliullah bisa ada waktu untuk (sekedar) menulis…Hal-lah, sok sibuk, hihih..

Ini semua karena tanpa sengaja pagi ini saat buka jendela tepat disamping rumah ada keindahan yang membuatku takjub, ya bunga, tidak disangka bunga seindah itu berasal dari sebuah pohon Gamal (Gliricidia sepium).

Pohon (yang dianggap) sepele karena hampir tidak mempunyai nilai ekonomi ini tidak disangka mempunyai nilai keindahan, setidaknya bagiku saat ini. Konon pohon ini bisa menyanyi dengan suara yang indah, walaupun sekarang sudah jarang orang bisa mendengarkannya lagi, mosok? Iya, aku adalah termasuk yang beruntung masih sempat menikmati suara indah itu, nanti aku beritahu diakhir tulisan ini.

Para peternak sapi atau kambing biasa memanen daun dan batang mudanya untuk pakan, dan pekebun biasa menggunakan untuk pelindung tanaman pokok, juga dipakai untuk mematikan alang alang, tak heran nama Gamal ini diakronimkan dengan “Ganyang Mati Alang-alang”.

Tapi sebenarnya tanaman ini mempunyai manfaat kesehatan yang tidak remeh, hanya saja memang belum banyak yang tahu sebagian dari kita semua. Ternyata daunnya bisa digunakan untuk mengatasi kekurangan Vitamin dan mineral pada tubuh kita, disamping juga untuk mengobati beberapa penyakit seperti, rematik, sakit kuning, radang tenggorokan, epilepsi dan lain lain. Dan ini kabar gembira bagi para wanita, daunnya bisa digunakan untuk menghaluskan kulit dan menghilangkan flek pada wajah.

Ini saja dulu, dan sesuai janji diawal aku berani sumpah kalau aku sendiri dengan telingaku sendiri pernah melihat dan mendengar nyanyian itu, suaranya merdu dan unik, Gamal Mirdad!!! .

Pct/30/08/18

Jumat, 19 September 2014

Kasih Ibu
Kasih Ibu..
Kepada Beta..
Tak Terhingga, Sepanjang Masa...

Itu sempalan lagu Kasih Ibu yang sepertinya kita semua juga tahu dan hapal liriknya..
Tidak banyak Saya dapatkan lagu mengenai Kasih seorang Bapak tapi pasti banyak kalau mengenai Ibu, sebut saja Lagu Ibu nya Iwan Fals dan sountrack lagu dari film Hafalan Shalat Delisa.
Kita semua para suami tahu maknanya dari lagu tersebut, namun tidak ada salahnya juga saya mengutarakan pendapat saya disini;
Pertama, ini bermakna tentang kasih Ibu kita sewaktu kita kecil hingga besar, hingga hari ini.
Bagi anda yang masih mempunyai Ibu, berbahagialah dan bersegeralah hadir di hidupnya, sempatkan diantara waktu anda untuk ada di dekatnya.. sebelum dia meninggalkanmu.
Ibu kita adalah sarana bagi rezeki kita dan ridho Tuhan.
Ya, Saya beruntung masih mempunyai Ibu, Ibu yang melahirkan Saya dan Ibu yang melahirkan Istri Saya, dua duanya adalah Ibu kita, doa mereka ada dalam setiap langkah kita.. bahkan kalaupun kita tidak memintanya..
Kedua, ini bermakna tentang kasih Istri kita terhadap anak-anak kita, disini kita para suami bisa ikut berperan untuk menjadikan istri kita seorang Ibu yang terbaik bagi anak-anak kita, buah hati kita, penerus harapan kita..
Mari kita para suami menjadikan Ibu kita dan Ibu dari anak-anak anak kita adalah hal terbaik yang pernah kita punya dan terindah yang pernah kita miliki dan mendudukannya ditempat yang semestinya, sehingga kasih mereka akan dinikmati kita dan anak-anak kita sepanjang masa, karena kasih mereka adalah juga kasih Tuhan...

Kamis, 18 September 2014

Pilihan
Terkadang kita harus memilih antara realita dan perasaan, idealis dan praktis.
Bagi kita para suami ketika harus jauh dari keluarga, istri dan anak-anak kita yang sedang tumbuh akan merupakan pilihan yang sangat berat, satu pihak kita harus mencari nafkah dan di pihak lain akan kehilangan waktu bersama, melihat istri berias cantik untuk kita, melihat si kecil menangis dan memukuli kita dengan lembut, dan tertawa mereka yang merupakan suara yang selalu akan kita rindukan diantara ribuan suara yang kita bisa temui setiap hari.
Waktu yang berlalu tanpa kehadiran mereka bagi kita, dan waktu yang berlalu yang menumbuhkan tubuh dan kedewasaan pikiran si kecil tanpa kehadiran kita, tidak akan bisa kita gantikan dengan apapun, tetapi kenapa kita para suami tetap harus meninggalkan mereka dengan alasan pekerjaan?
Kita para suami akan sanggup memikul beban berat mereka diatas pundak kita, tetapi tak akan sanggup untuk menerima omongan orang lain tentang ketidakmampuan menafkahi mereka... itulah kenapa kita harus memilih..
Dan pilihan kita adalah realita kehidupam.... tidak idealis dan popilis tapi pragmatis dan mungkin praktis..
Tidak masalah.. kita akan menangisi ketidak hadiran kita di hari-hari mereka dimana kita tidak bisa memutar kembali waktu tersebut.. kita pikul tanggungjawab ini diatas pundak kita... sampai pundak kita tidak bisa menopang lagi..
Ya.. ini adalah pilihan.. pilihan bagi lelaki pilihan,

Intro

Blog ini dibuat untuk konsumsi pribadi, hanya untuk mendokumentasikan hal hal pribadi, namun dipersilahkan umum untuk melihat